Sungai Pengaruhi Pendidikan Anak

Sungai Pengaruhi Pendidikan Anak


Daerah bantaran sungai masuk kategori slum area dan masyarakat yang identik dengan status ekonomi ke bawah di wilayah perkotaan. Di sisi lain, berdasarkan teori ekologi keluarga Urie Bronfenbrenner, salah satu lingkungan mikro yang memengaruhi anak adalah lingkungan fisik. Hal itu menunjukkan bahwa sungai merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi keluarga untuk membentuk karakter anak.

Fakta menunjukkan bahwa sungai masih menjadi tempat bermain anak seperti berenang, berendam 


dan sebagainya. Namun kondisi sungai sekarang tidak bersih, karena masih dijadikan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) hingga Mandi Cuci Kakus (MCK) warga, sehingga sangat rentan timbul berbagai penyakit.

Berawal dari tekad kuat untuk mendedikasikan kiprahnya sebagai mahasiswa di tengah masyarakat desa, lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan program gerakan ekologis dan penanaman nilai karakter bagi anak di bantaran Sungai Cibalok. Sungai ini terletak di dekat Jembatan Merah, Kelurahan Cibogor, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Lima mahasiswa tersebut adalah Yulian Hadi Nurkholiq, Gita Andi Mauliani, Alfi Khafidhatun Nisa,


 Rizky Astana dan Nusaibah Abdul Aziz. Mereka berada di bawah bimbingan Alfiasari, dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Kegiatan para mahasiswa tersebut merupakan Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M) yang didanai Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI).

”Dalam gerakan ekologis dengan nama ’Garda Ekodaksis’ yang dapat diakses melalui akun instagram @gardaekodaksis, kami menerapkan penanaman karakter melalui sembilan pilar karakter yang akan diajarkan kepada anak-anak,” kata Ketua PKM-M Garda Ekodaksi, Yulian.


Gagasan sembilan pilar tersebut dicetuskan Ratna Megawangi. Ia dikenal sebagai pelopor pendidikan


 holistik berbasis karakter di Indonesia dan merupakan pendiri Indonesia Heritage Foundation (IHF) sekaligus pernah menjadi dosen Departemen IKK Fema IPB.

“Kami melihat peluang besar untuk mendidik generasi muda. Kami melihat antusiasme anak-anak di sana untuk menambah ilmu cukup besar, namun sayangnya tenaga pengajar di sana terbatas sehingga intensitas pengajaran jadi terkendala,” ungkap Yulian.


Sumber :
https://voi.co.id/